
Pada Mei 2026, PTP Nonpetikemas mengintensifkan program Green Port sebagai bagian dari transformasi operasional yang menempatkan keberlanjutan lingkungan, kesehatan pekerja, dan dampak sosial sebagai satu kesatuan strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar kewajiban regulasi. Direktur Utama Indra Hidayat Sani menegaskan bahwa green port bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlangsungan operasional yang sehat dan aman bagi pekerja, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan bisnis. Senada dengan itu, Fiona Sari Utami, Senior Manager Sekretaris Perusahaan, memperkuat posisi perusahaan: “Green port adalah kebutuhan, bukan lagi pilihan. Industri pelabuhan harus bergerak menuju operasional yang lebih bersih dan berkelanjutan, karena di balik itu ada aspek yang paling penting, yaitu kesehatan dan keselamatan manusia.” Implementasinya sangat konkret: di Cabang Teluk Bayur, revitalisasi seluruh Gantry Jib Crane dari bahan bakar fosil ke elektrifikasi yang dimulai sejak April 2025 telah menghasilkan penurunan nyata pada tingkat kebisingan dan polusi udara, sementara di tingkat sistem, perusahaan membangun HSSE Dashboard untuk pemantauan kondisi lapangan secara real-time di 11 cabang operasional, didukung lebih dari 1,27 juta safety patrol dan 14.000 safety briefing sepanjang 2025.
Secara strategis, Green Port adalah repositioning bisnis yang memberi PTP Nonpetikemas daya saing jangka panjang di tengah tekanan global terhadap industri logistik untuk memenuhi standar ESG. Seluruh inisiatif ini diintegrasikan ke dalam program TJSL yang selaras dengan prinsip ESG dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mencakup pilar pendidikan, lingkungan, pengembangan UMKM, dan sosial kemasyarakatan, yang berarti bahwa setiap ton kargo yang dibongkar di dermaga PTP Nonpetikemas kini membawa bobot akuntabilitas sosial dan lingkungan yang terukur. Bagi pelanggan korporat dan mitra internasional yang semakin ketat menerapkan ESG scorecard dalam pemilihan mitra logistik, posisi PTP Nonpetikemas sebagai green port operator bukan lagi nilai tambah melainkan prasyarat.















