Selama tiga bulan, dari Maret hingga Juni 2026, PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), menggelar Kompetisi Karya Jurnalistik PortPress 2026. Hasilnya: 212 karya masuk, dari 84 media berbeda di berbagai penjuru Indonesia. Bukan angka kecil untuk sebuah kompetisi bertema pelabuhan, sektor yang selama ini kurang banyak dipantau mata media, dan dianggap seolah cuma urusan bongkar muat semata.
PortPress lahir dari kesadaran sederhana: pelabuhan bukan sekadar simpul logistik, tapi juga penggerak ekonomi yang menyambungkan pabrik, pasar, dan masyarakat di baliknya. Setiap kontainer yang naik turun kapal sebenarnya membawa cerita, soal konektivitas antarpulau, industri daerah yang tumbuh, dan orang-orang yang bekerja di baliknya. Cerita semacam itu jarang sampai ke publik. PortPress hadir untuk menjembataninya.
Satu Tema, Enam Sudut Pandang
Tahun ini PortPress mengangkat tema besar PTP Nonpetikemas Menggerakkan Logistik untuk Pertumbuhan Ekonomi, yang dipecah menjadi enam subtema: Ekonomi & Konektivitas Nasional, Green Port & Sustainability, TJSL & Dampak Sosial, Digitalisasi & Modernisasi Logistik, serta Pelayanan Prima & Budaya Melayani Sepenuh Hati.
Peserta bebas memilih sudut mana yang mau digarap, mau menulis soal pelabuhan hijau, digitalisasi layanan, atau kisah manusia di balik operasional harian, semua terbuka. Karya yang masuk dibagi ke tiga kategori: Hard News, Feature, dan Foto Jurnalistik, dinilai oleh dewan juri yang diisi praktisi media senior, mulai dari Ketua Forum Pemred sekaligus Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti, Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis, hingga fotografer Kompas Agus Susanto, supaya penilaian tetap independen dan bukan sekadar formalitas.
Ketika Antusiasme Melebihi Rencana
Kompetisi ini awalnya dijadwalkan tutup lebih cepat, yakni 29 Mei 2026. Tapi antusiasme peserta dari berbagai daerah membuat panitia memutuskan memperpanjang masa penerimaan karya sampai 14 Juni 2026. Keputusan kecil ini sebenarnya menandakan sesuatu yang besar: minat media terhadap isu kepelabuhanan ternyata lebih tinggi dari perkiraan.
Hasil akhirnya: 114 karya tulis dan 98 karya foto jurnalistik. Di balik angka-angka itu, ada ratusan cerita nyata, mulai dari distribusi komoditas unggulan daerah, inovasi pelayanan, transformasi digital, hingga wajah-wajah pekerja yang menggerakkan pelabuhan setiap hari. Lewat karya-karya ini, pelabuhan berhenti menjadi sekadar infrastruktur di peta dan mulai terlihat sebagai ekosistem yang benar-benar menyentuh kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.
Bukan Sekadar Lomba, Tapi Investasi Jangka Panjang
Yang menarik, PTP Nonpetikemas sendiri tidak mengukur keberhasilan PortPress hanya dari jumlah peserta. Bagi kami, program ini adalah investasi komunikasi jangka panjang, cara membangun hubungan yang lebih dekat dan saling percaya dengan insan media, bukan sekadar proyek publikasi musiman.
Alasannya masuk akal. Media independen yang menulis dengan data akurat, karena kami sengaja membuka akses informasi lewat publikasi, kunjungan lapangan, dan komunikasi langsung dengan unit operasional, menghasilkan narasi yang jauh lebih dipercaya publik dibanding materi promosi perusahaan sendiri. Kepercayaan semacam itu, pada akhirnya, adalah aset yang tidak bisa dibeli lewat iklan.
Puncak Acara: Workshop dan Awarding
Rangkaian PortPress 2026 ditutup dengan dua agenda dalam satu hari di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026. Pertama, Workshop Media bertajuk Pelabuhan Menggerakkan Logistik, Mendorong Ekonomi Daerah, menghadirkan perspektif dari berbagai sisi: komunikasi strategis, kolaborasi bisnis, dunia jurnalistik, sampai satu topik yang cukup baru untuk industri kepelabuhanan, dibawakan oleh Ilman Akbar.
PortPress sendiri sebenarnya juga bisa dibaca sebagai strategi PR di era AI. Saya sudah menuliskan pembahasan lebih lengkap soal ini di artikel terpisah, bisa dibaca di artikel PortPress: Strategi PR di era AI.
Para Juara
Setelah proses penjurian, malam Awarding mengumumkan para pemenang dari tiga kategori.
Di kategori Hard News, Juara 1 diraih Rasyid Ridho dari Kompas lewat tulisan Menjaga Denyut Logistik dari Ujung Barat Jawa, Pelabuhan Ciwandan Jadi Jantung Ekonomi Tanah Jawara. Juara 2 diraih Anton Chrisbiyanto dari Kabar Indo, dan Juara 3 diraih Rendi Fadilah dari Sumatera Ekspres.
Di kategori Feature News, Juara 1 diraih Muhammad Syahri Romdhon dari Kompas lewat tulisan Jejak Jagung dari Pelabuhan ke Kandang Ternak, Menjaga Rantai Pangan dan Roda Ekonomi dari Pesisir Jawa. Juara 2 diraih Ira Guslina Sufa dari Katadata, dan Juara 3 diraih Arifin Al Alamudi dari IDN Times.
Di kategori Foto Jurnalistik, Juara 1 diraih Hendrivan Gumala dari Lampung Post, disusul Usman Iskandar dari Media Indonesia sebagai Juara 2, dan Fitra Yogi dari Antara News sebagai Juara 3.
Selain juara utama, panitia juga memberikan penghargaan favorit kepada 16 karya dari berbagai kategori, di antaranya untuk Eko Putra Membara dari Harian Bengkulu Ekspress lewat tulisan Mengalirkan Emas Hijau Lebat Cepat, Strategi Drop Tank PTP Nonpetikemas Pacu Ekonomi Daerah, bersama Damasus Jati dari Indonesia Shipping Gazette dan Affran Kurniawan dari Lampung Post.
Selamat kepada seluruh pemenang. Karya kalian membuktikan bahwa cerita pelabuhan, kalau digarap dengan cara yang tepat, ternyata bisa semenarik itu.
Cerita yang Belum Selesai
PortPress 2026 sudah usai, tapi ceritanya sepertinya belum akan berhenti di sini. Kami berharap kompetisi ini terus menjadi ruang kolaborasi jangka panjang antara perusahaan, media, akademisi, dan pemangku kepentingan lain, sebuah platform yang, kalau konsisten dijalankan setiap tahun, lambat laun bisa mengubah cara publik memandang sektor kepelabuhanan, dari sekadar urusan logistik menjadi bagian nyata dari denyut ekonomi Indonesia.
Sekali lagi, selamat kepada seluruh pemenang dan karya-karya terpilih PortPress 2026. Sampai jumpa di edisi berikutnya.