Pada 9 Juli 2026, saya mendapat kesempatan membawakan presentasi tentang ESG dan DEI pada IDEAS Conference 2026, mewakili PTP Nonpetikemas dan Pelindo Group. Tulisan ini adalah versi panjang dari apa yang saya sampaikan di panggung.
Pelabuhan sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Infrastruktur
Pelindo Group hadir di 32 provinsi, mengelola 122 pelabuhan lewat empat sub-holding, menangani hampir 20 juta TEUs peti kemas dan lebih dari 195 juta ton kargo dalam setahun. Tapi angka-angka itu, sejujurnya, bukan inti ceritanya.
Inti ceritanya adalah siapa saja yang hidup di dalam angka-angka itu. Ada industri dan manufaktur yang bergantung pada bongkar muat komoditas strategis kami. Ada ketahanan pangan nasional yang bertumpu pada kelancaran arus pupuk dan gandum. Ada puluhan ribu keluarga pekerja, TKBM, hingga petugas bea cukai. Ada warga dan nelayan pesisir yang tinggal berdampingan langsung dengan pelabuhan kami. Dan ada pemerintah, media, akademisi, yang ikut membentuk narasi publik tentang industri ini.
Semua pihak itu, seperti pohon dan organisme di dalam hutan, tidak bergerak karena diperintah. Mereka tumbuh karena saling menumbuhkan.
Bukti paling nyata dari cara berpikir ini datang dari Pulau Baai, Bengkulu. Maret 2025, alur pelabuhan tertutup sedimentasi sepanjang 2,3 kilometer. Kapal tak bisa masuk, ekspor merosot, dan 4.000 warga Pulau Enggano terisolir dari rantai pasok nasional. Kami bergerak, mengeruk, memulihkan. Dan dari krisis itu lahir sesuatu yang tidak kami rencanakan sejak awal: layanan Drop Tank, inovasi curah cair yang kini mempercepat waktu muat dari lima hari menjadi tiga. Memperbaiki lingkungan, ternyata, bisa melahirkan lini bisnis baru. Bukan filantropi. Cara memastikan ekosistem tetap berfungsi, dan bisnis ikut tumbuh.
ESG: Cara Kita Merawat Ekosistem Itu
Kalau pelabuhan adalah ekosistem, maka ESG adalah cara kita merawatnya. Bukan checklist kepatuhan. Seperti kata Mark Carney, “ESG is not about philanthropy; it’s about risk management.”
Untuk Environment, kami memilih membuktikan lewat aksi, bukan sertifikat: elektrifikasi alat bongkar muat, dan keberanian melaporkan bahwa emisi PTP justru naik tahun ini, karena volume operasi kami tumbuh. Kami pilih melaporkannya apa adanya, karena transparansi soal angka yang tidak selalu bagus, itu sendiri bagian dari ESG.
Untuk Social, saya paling suka bercerita tentang Kampung Nelayan Kalibaru: pelatihan olahan ikan dan rumput laut untuk istri-istri nelayan, direspons dari persoalan nyata: sekitar 80 anak di kelurahan itu mengalami stunting, menurut Lurah setempat sendiri. Ini bukan program CSR generik. Ini jawaban atas persoalan yang ada tepat di sebelah dermaga kami.
Untuk Governance, saya senang mengutip Larry Fink: tata kelola yang baik bukan tentang larangan, tapi tentang peluang. Sertifikasi lingkungan kami menjadi kunci pembuka rantai pasok global. Sistem pelaporan kami terhubung langsung ke WBS KPK, memastikan suara sekecil apa pun tetap didengar.
DEI: Kapabilitas, Bukan Kosmetik
Ada prinsip dari ilmu sibernetika, Hukum Ashby, yang berbunyi kurang lebih begini: untuk mengatasi sistem yang kompleks, organisasi yang menghadapinya harus memiliki kompleksitas yang setara. Organisasi yang seragam, betapapun rapinya, tidak akan mampu memahami ekosistem yang beragam.
Itulah kenapa DEI, bagi saya, bukan program HR. DEI adalah kapabilitas untuk merespons dunia yang memang tidak seragam.
Saya juga memilih menunjukkan data kami apa adanya: komposisi karyawan PTP yang masih didominasi laki-laki, gap keterwakilan perempuan yang lebih lebar di cabang operasional dibanding kantor pusat. Ini bukan angka yang memalukan. Ini titik awal yang jujur. Dan dari titik itu, ada hasil yang bisa diukur: target kepemimpinan perempuan tercapai satu setengah kali lipat dari target, produktivitas pegawai naik 49 persen dalam setahun. Bukan kebetulan.
Komunikasi: Infrastruktur yang Menyatukan Semuanya
Ekosistem yang sehat, ESG yang baik, DEI yang tertanam — semua itu tidak akan bergerak tanpa satu hal: komunikasi yang menyatu dari dalam.
Di PTP, kami punya satu keyakinan: setiap karyawan adalah PR. Bukan slogan. Ketika ratusan karyawan kami turun ke lapangan, mereka bukan sekadar pelaksana program. Mereka adalah simpul komunikasi yang membawa cerita ini ke keluarga, ke komunitas, ke jaringan masing-masing — komunikasi yang tidak bisa dibeli dengan anggaran iklan berapa pun.
Kami menyampaikannya lewat kerangka yang kami sebut PESO (Paid, Earned, Shared, Owned) dan mengukur dampaknya secara serius lewat AMEC Framework, dari output hingga dampak nyata terhadap bisnis. Karena bagi saya, komunikasi yang baik bukan yang paling ramai. Tapi yang paling bisa dipertanggungjawabkan.
Tiga Tiang yang Saling Mengunci
Jika saya harus merangkum semuanya dalam satu kalimat: DEI dan ESG adalah strategi perusahaan yang cukup beragam untuk mendengar, cukup terukur untuk bertanggung jawab, dan cukup dipercaya untuk melayani ekosistem tempat kami bertumbuh.
ESG merawat ekosistem itu. DEI adalah kapabilitas yang membuat kami cukup beragam untuk memahaminya. Dan komunikasi adalah infrastruktur yang menyatukan keduanya, disebarkan bukan dari atas, tapi dari setiap orang yang memahami narasi ini sebagai miliknya sendiri.
Saya kebetulan juga menjadi salah satu contoh kecil dari prinsip ini — perempuan yang mendapat kesempatan berkarier di dunia yang dulu dianggap dunia laki-laki. Dan tugas saya, bersama tim, sederhana saja: memastikan setiap pemangku kepentingan memahami bagaimana kami beroperasi, melayani, dan berkolaborasi bersama seluruh ekosistem ini.
Ekosistem yang kita rawat hari ini, adalah dunia yang kita tinggali besok.