Pelabuhan sebagai Agen Pengembangan Ekonomi

Dua artikel sebelumnya dalam seri ini membangun sebuah argumen: pelabuhan yang dikelola dengan baik dan terintegrasi dengan ekosistem ekonomi wilayah bisa menjadi pendorong pertumbuhan yang nyata. Artikel ini membahas bagaimana prinsip itu diwujudkan dalam praktik, khususnya melalui peran Pelindo dan anak usahanya PT Pelabuhan Tanjung Priok, atau yang dikenal sebagai PTP Nonpetikemas.

Pelindo: Satu Induk, Satu Visi Sistem

Sejak merger Oktober 2021, seluruh BUMN kepelabuhanan Indonesia berada di bawah satu atap: PT Pelindo (Persero). Konsolidasi ini bukan sekadar penyederhanaan struktur korporasi. Ia membuka kemungkinan untuk mengelola jaringan pelabuhan Indonesia sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, bukan sebagai entitas-entitas terpisah yang bersaing satu sama lain.

Di bawah Pelindo, pengelolaan terminal non-petikemas atau multipurpose diserahkan kepada PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) sebagai subholding. SPMT mengelola lebih dari 30 terminal aktif di seluruh Indonesia, termasuk melalui anak usahanya PT Pelabuhan Tanjung Priok atau PTP Nonpetikemas.

PTP Nonpetikemas: 11 Terminal, Satu Misi

PTP Nonpetikemas mengoperasikan 11 terminal yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Sebagai operator multipurpose, setiap terminal melayani berbagai jenis kargo dari berbagai pengguna: curah cair seperti CPO dan produk turunannya, curah kering seperti batubara dan pupuk, general cargo, dan bag cargo. Model ini secara by design menciptakan ekosistem yang lebih inklusif dibanding pelabuhan captive yang hanya melayani satu korporasi.

TerminalLokasiKomoditas Utama
Tanjung PriokJakarta UtaraGeneral cargo, bahan baku industri, baja
CiwandanCilegon, BantenKargo industri berat, petrokimia, bahan baku baja
CirebonKota CirebonBatubara, pasir kuarsa
PanjangBandar LampungCPO dan turunan, curah kering, bag cargo
BengkuluKota BengkuluBatubara
PalembangKota PalembangPupuk, bahan baku industri
JambiKota JambiCPO, semen, gas
Teluk BayurKota PadangCPO, cangkang sawit, batubara, pupuk, semen
Tanjung PandanKab. BelitungBijih timah, bag cargo
Pangkal BalamPangkalpinangCPO, curah kering
Terminal KijingKab. Mempawah, KalbarCPO, bauksit, alumina, batubara, pupuk impor

Jaringan 11 terminal ini melayani koridor logistik Sumatera hingga Kalimantan, mencakup komoditas ekspor utama Indonesia dari sawit, batubara, hingga mineral strategis. Pada Semester I 2025, total throughput PTP Nonpetikemas mencapai 22,4 juta ton, tumbuh 6,05% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih dari Sekadar Mengangkut Barang

Yang membedakan pendekatan PTP Nonpetikemas dari operator pelabuhan konvensional adalah orientasinya yang melampaui throughput. Beberapa terminal dalam jaringannya tengah dikembangkan bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas bongkar muat, tapi untuk menjadi bagian dari ekosistem ekonomi wilayah yang lebih luas.

Teluk Bayur di Padang, misalnya, telah berkembang menjadi pintu ekspor tunggal yang paling penting bagi Sumatera Barat. Kinerja ekspornya berdampak langsung pada penerimaan daerah provinsi. Pangkal Balam memperlihatkan bagaimana terminal multipurpose bisa mengakomodasi transisi struktural ekonomi daerah dari timah ke sawit tanpa guncangan besar. Ciwandan mendukung kompleks industri baja dan petrokimia Cilegon yang menjadi salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia bagian barat.

Terminal Kijing: Pelabuhan sebagai Katalis Hilirisasi Nasional

Di antara seluruh terminal dalam jaringan PTP Nonpetikemas, Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mewakili visi paling ambisius tentang apa yang bisa dilakukan sebuah pelabuhan bagi pengembangan wilayah.

Diresmikan pada 9 Agustus 2022, Terminal Kijing hadir untuk menyelesaikan masalah struktural yang sudah berlangsung puluhan tahun: komoditas Kalimantan Barat, dari minyak sawit hingga bauksit, selama ini harus diekspor melalui pelabuhan di Jawa, sehingga nilai logistik dan pajak ekspornya tidak tertahan di Kalbar.

Dengan kedalaman alur 15 meter dan kemampuan melayani kapal hingga 100.000 DWT (ukuran kapasitas angkut kapal), Kijing dirancang untuk menjadi salah satu dari tujuh hub pelabuhan utama Indonesia.

Pertumbuhan yang cepat dan terukur

TahunVolume KargoCatatan
2022 (parsial)~0,5 juta tonTahap awal operasional
20232,27 juta tonCPO dan turunan dominan
20242,75 juta tonTumbuh 21% dari tahun sebelumnya
Jan hingga Nov 20253,59 juta tonMelampaui target RKAP 3,3 juta ton

SGAR: Ketika Pelabuhan Menggerakkan Hilirisasi

Kehadiran Terminal Kijing menjadi bermakna penuh dengan beroperasinya SGAR (Smelter Grade Alumina Refinery, yaitu pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina) tepat di sebelah terminal. Fasilitas ini dibangun oleh PT Borneo Alumina Indonesia, perusahaan patungan PT INALUM dan PT ANTAM di bawah MIND ID.

Rantai nilai yang terbentuk adalah yang pertama di Indonesia yang tidak memerlukan pengiriman bahan mentah mineral ke luar negeri untuk diolah:

  1. Bauksit ditambang di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
  2. Diolah menjadi alumina di SGAR Mempawah, tepat di sebelah Terminal Kijing
  3. Alumina dikirim via Terminal Kijing ke PT Inalum di Kuala Tanjung, Sumatera Utara
  4. Di sana diolah menjadi aluminium ingot untuk industri kendaraan listrik, elektronik, dan otomotif

Terminal Kijing adalah infrastruktur yang membuat rantai ini bisa bekerja. Tanpa pelabuhan yang mampu melayani kapal besar pembawa alumina dan tanker bahan kimia untuk proses produksi, SGAR tidak bisa beroperasi secara ekonomis di lokasi ini. Pelabuhan dan hilirisasi saling mensyaratkan.

Apa Kata Riset Akademis?

Dampak Terminal Kijing terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah bukan hanya terasa secara anekdotal. Sebuah penelitian akademis yang ketat telah membuktikannya secara statistik.

Ardi Ridho El Putra Gulo, dalam tesis magisternya di Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Gadjah Mada (2025), menggunakan metode Difference-in-Differences dan Synthetic Control Method dengan data 2015 hingga 2024 untuk menjawab satu pertanyaan: apakah Pelabuhan Kijing benar-benar menyebabkan pertumbuhan ekonomi, atau hanya hadir bersamaan dengan pertumbuhan yang terjadi karena faktor lain?

Jawabannya tegas: Terminal Kijing terbukti secara kausal menambah laju pertumbuhan ekonomi sebesar 0,714 hingga 0,751 poin persentase per tahun di wilayah terdampak, signifikan secara statistik, terkontrol dari delapan variabel termasuk dampak pandemi Covid-19.

Penelitian juga menemukan bahwa dampaknya paling kuat dirasakan di Kabupaten Mempawah, lokasi fisik pelabuhan, sementara kota-kota yang lebih jauh seperti Singkawang merasakan dampak yang lebih lemah karena konektivitas darat yang belum optimal. Temuan ini memperkuat satu prinsip penting: pelabuhan mendorong pertumbuhan, tapi jangkauannya mengikuti konektivitas darat yang ada.

Referensi lengkap penelitian: etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/261599

Pelabuhan dan Pembinaan Ekosistem

Pengembangan Terminal Kijing tidak berhenti pada infrastruktur pelabuhan dan SGAR. Sejumlah inisiatif lanjutan sedang dalam proses, mencakup penyelesaian jalan akses nasional ke terminal, perencanaan tol yang menghubungkan Pontianak dengan Kijing dan Singkawang, serta rencana penetapan Kawasan Ekonomi Khusus di sekitar kawasan Kijing yang akan menarik lebih banyak investasi industri pengolahan.

Ketika seluruh ekosistem ini terbentuk, Terminal Kijing berpotensi menjadi contoh paling lengkap tentang bagaimana pelabuhan bisa berfungsi sebagai agen pengembangan ekonomi wilayah: bukan hanya memindahkan barang, tapi membangun ekosistem yang menciptakan nilai, menyerap tenaga kerja lokal, dan menahan kekayaan daerah agar tidak mengalir begitu saja ke tempat lain.

Pelabuhan yang terbaik bukan yang terbesar. Pelabuhan yang terbaik adalah yang paling dalam mengakar pada ekonomi wilayah yang dilayaninya.


Ini adalah bagian ketiga dari seri Pelabuhan sebagai Agen Pengembangan Ekonomi. Baca dari awal: Bagian 1: Pelabuhan dan Ekonomi Wilayah dan Bagian 2: Pelabuhan dan Pertumbuhan Ekonomi.


Referensi: Data operasional PTP Nonpetikemas dan SPMT 2025, laporan throughput Terminal Kijing, tesis magister UGM 2025 (Ardi Ridho El Putra Gulo), etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/261599), BPS, Kemenko Perekonomian.