Kompetisi Jurnalistik yang keren, ternyata menjadi Strategi GEO, paradigma baru PR di Era AI
Tahun ini PTP Nonpetikemas (Pelindo Group) menggelar Portpress 2026 “Kompetisi Karya Jurnalistik”, yaitu ajang yang membuka ruang bagi insan media di seluruh Indonesia untuk mengangkat peran sektor kepelabuhanan dalam distribusi logistik dan pertumbuhan ekonomi nasional. Mengusung tema “PTP Nonpetikemas Menggerakkan Logistik untuk Pertumbuhan Ekonomi”, kompetisi ini menghadirkan Lomba Tulis Jurnalistik dengan subkategori hardnews dan feature, serta Lomba Foto Jurnalistik. Periode publikasi dan pengumpulan karya berlangsung Maret hingga Mei 2026, dilanjutkan penjurian dan pengumuman nominasi pada bulan Juni. Saya sendiri mendampingi BOD PTP melakukan rangkaian port visit ke cabang-cabang pelabuhan untuk mengajak jurnalis melihat sendiri bagaimana operasi berjalan, di jaringan yang membentang ke sebelas cabang pelabuhan di berbagai wilayah strategis Indonesia. Hasilnya terlihat pada luasnya media yang berminat, baik dari sisi wilayah maupun lingkup pemberitaan, dari kantor berita nasional dan media ekonomi arus utama, media daerah di berbagai provinsi, sampai media khusus bidang kehumasan dan logistik.
Menariknya, tanpa dirancang sebagai program teknologi, penyelenggaraan Portpress ternyata sejalan dengan kaidah yang kini disebut para praktisi sebagai GEO.
Dari SEO ke GEO
GEO (Generative Engine Optimisation) merupakan pengembangan dari SEO yang selama ini kita kenal. Kalau SEO adalah upaya agar sebuah halaman muncul seatas mungkin di mesin pencari supaya diklik orang, maka GEO adalah upaya agar informasi sebuah organisasi dikutip, dirujuk, dan digambarkan secara akurat oleh mesin AI ketika mesin itu menyusun jawaban langsung untuk penggunanya. SEO membuat sebuah perusahaan dapat ditemukan; GEO membuatnya ikut menyusun jawaban yang dibaca publik.
Pergeseran ini muncul karena perilaku masyarakat memang sedang berubah. Semakin banyak orang bertanya kepada ChatGPT, Gemini, atau Claude, dan menerima jawaban jadi tanpa perlu membuka satu situs pun. Dalam kondisi seperti itu, yang menentukan bukan lagi sekadar peringkat halaman, melainkan apakah informasi sebuah perusahaan cukup jelas, cukup kredibel, dan cukup terkonfirmasi untuk dipakai mesin sebagai bahan jawaban.
Di sinilah GEO menjadi paradigma baru dalam dunia kehumasan, seiring makin terarusutamakannya AI dalam keseharian masyarakat. Namun kita ingat, inti GEO bukanlah membelokkan mesin agar berpihak pada kepentingan bisnis. Justru sebaliknya: GEO adalah upaya memastikan bahwa ketika publik mencari pengetahuan tentang sebuah sektor melalui AI, jawaban yang mereka terima disusun dari informasi yang sahih, terverifikasi, dan dapat ditelusuri ke sumber yang kompeten. Bagi perusahaan yang mengemban kepentingan publik seperti operator pelabuhan, ini bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan bagian dari tanggung jawab menjaga kualitas informasi yang beredar tentang sektornya.
Bagaimana GEO Bekerja
Hampir semua mesin AI modern bekerja dengan pola yang disebut RAG (Retrieval-Augmented Generation), yang secara sederhana berarti menjawab setelah lebih dulu mengambil bahan dari berbagai sumber. Prosesnya berlangsung dalam empat tahap. Pada tahap pertama, mesin memecah satu pertanyaan menjadi beberapa pertanyaan kecil, menarik potongan-potongan teks yang relevan dari banyak sumber, merangkainya menjadi satu jawaban utuh, lalu melampirkan sumber sebagai rujukan.
Tahap kedua adalah penarikan bahan. Ini adalah titik persaingan antara berbagai sumber informasi. Mula-mula mesin mengambil banyak bahan di awal, lalu memeriksanya dengan ketat, tapi kemudian mengutip hanay sedikit saja. Pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan silang. Setiap klaim dibandingkan dengan sumber lain. Klaim yang dikonfirmasi pihak independen dinaikkan statusnya menjadi tepercaya, sementara klaim yang hanya muncul di kanal milik satu sumber sendiri (misalnya web perusahaan saja) diperlakukan sebagai keterangan yang belum terverifikasi dan cenderung tidak dikutip.
Konsekuensinya penting dan sering mengejutkan praktisi kehumasan. Sebuah fakta yang benar, ditulis rapi, dan dimuat di situs resmi perusahaan tetap bisa tidak dikutip mesin kalau tidak ada sumber independen yang mengonfirmasinya. Sebaliknya, fakta yang sama menjadi jauh lebih kuat begitu ia dikonfirmasi oleh beberapa media yang berbeda. Karena itulah dalam dunia GEO, liputan media independen bukan sekadar corong publikasi, melainkan lapisan verifikasi yang menentukan apakah sebuah perusahaan layak dikutip.
Satu hal lagi yang perlu kita pahami. Mesin ini mengenali kemiripan tulisan berdasarkan maknanya, bukan berdasarkan kata per kata. Karena itu, sepuluh media yang memuat siaran pers yang sama persis, atau hanya mengubah beberapa kata, tetap dibaca mesin sebagai satu sumber, bukan sepuluh sumber. Ini menjelaskan mengapa penyebaran siaran pers secara seragam sering kali kurang berdampak dibanding yang diperkirakan.
Praktik GEO Terbaik bagi Perusahaan dan Media
Dari cara kerja tersebut lahir sejumlah praktik optimisasi GEO yang kini dianggap terbaik.
Bagi perusahaan, kuncinya ada pada tiga hal:
- Pertama, sediakan fakta yang mudah dikutip: angka yang spesifik, metodologi yang jelas, dan kutipan dari narasumber yang jelas namanya.
- Kedua, jangan hanya mengandalkan kanal sendiri, karena konfirmasi dari pihak ketiga adalah yang menentukan.
- Ketiga, fokuskan diri pada beberapa tema inti yang memang menjadi wilayah keahlian yang sah, sebab mesin cenderung hanya memilih sedikit rujukan utama untuk tiap topik. Lebih baik menjadi rujukan yang kuat di beberapa tema daripada hadir sekilas di banyak tema.
Bagi media, perubahan ke arah GEO ini justru menguntungkan. Ketika kunjungan langsung ke situs berita tergerus oleh kebiasaan membaca jawaban AI tanpa mengklik, nilai media sebagai sumber tepercaya yang dikutip mesin justru menguat. Media yang menghasilkan reportase orisinal dengan sudut pandang khas, data lapangan, dan kutipan langsung memiliki posisi yang jauh lebih kuat dibanding media yang sekadar memuat ulang rilis. Analisis industri menunjukkan bahwa sebagian besar kutipan yang muncul di jawaban AI berasal dari liputan media pihak ketiga, bukan dari situs resmi merek. Kesegaran juga berperan; karya yang terbit atau diperbarui dalam setahun terakhir jauh lebih mungkin dikutip.
Ada satu prinsip yang menyatukan keduanya: fakta boleh sama, cara bercerita harus berbeda. Inti fakta seperti angka dan kutipan narasumber perlu tetap konsisten agar mesin mengenalinya sebagai klaim yang sama dan mengonfirmasinya. Namun sudut pandang, gaya penulisan, susunan, dan konteksnya harus berbeda, karena justru perbedaan itulah yang membuat setiap media terhitung sebagai sumber independen.
Mengapa Portpress Sejalan dengan Kaidah Itu
Sebagai kompetisi, Portpress secara alamiah memaksa keberagaman. Tidak ada karya jurnalistik yang merupakan hasil salinan, karena karya semacam ini tidak akan lolos kompetisi. Setiap jurnalis akan menggali sudut pandang masing-masing, mengolah bahan dengan penalarannya sendiri, dan menyajikannya dengan gaya yang khas. Kategori yang dibuka pun mendorong pendekatan yang berbeda-beda: hardnews menuntut ketepatan dan aktualitas, feature membuka ruang bagi narasi manusia di balik operasi pelabuhan, sementara foto jurnalistik menghadirkan dimensi visual yang sama sekali lain.
Keberagaman itu diperkuat oleh luasnya sebaran peserta. Jurnalis dari media nasional membawa kerangka ekonomi makro dan kebijakan logistik. Jurnalis daerah di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan, dan wilayah lain membawa perspektif dampak ekonomi setempat, komoditas unggulan daerah, dan kehidupan di sekitar pelabuhan. Media khusus membawa sudut teknis dan kehumasan. Satu sektor yang sama dipotret dari puluhan sudut yang berbeda.
Namun di balik keberagaman itu, semua peserta bertumpu pada basis fakta yang sama. Melalui port visit, perusahaan tidak menyerahkan naskah jadi, melainkan membuka akses ke lapangan: bagaimana terminal multipurpose bekerja 24 jam sehari tujuh hari seminggu, bagaimana komoditas curah cair, curah kering, dan general cargo ditangani, bagaimana layanan stevedoring, cargodoring, hingga pergudangan tersambung menjadi satu rantai. Jurnalis merangkai sendiri apa yang mereka lihat, tetapi angka, istilah, dan konteksnya bersumber dari keterangan resmi yang konsisten.
Inilah persis kombinasi yang dicari mesin AI: satu inti fakta yang konsisten, dikonfirmasi oleh banyak sumber independen yang menyajikannya dengan cara masing-masing. Portpress mencapainya bukan melalui rekayasa teknis, melainkan melalui desain program yang memang mendorong orisinalitas. Bahwa penjuriannya dipegang praktisi independen dan bahwa datanya terbuka bagi siapa pun yang ingin meliput membuat keluaran ajang ini berdiri sebagai karya jurnalistik yang sah, bukan sebagai materi promosi yang digandakan.
Perbandingan dengan Perusahaan Global
Apa yang ditempuh PTP Nonpetikemas sejalan dengan arah yang sedang ditempuh banyak perusahaan besar di dunia, meski melalui jalur yang beragam.
Sebagian perusahaan global membangun ruang redaksi mereka sendiri dan memproduksi konten yang dirancang agar layak dikutip platform AI. HubSpot kerap disebut sebagai contoh yang berhasil menjalankan pendekatan ini secara konsisten. Sebagian lain menempuh jalur kemitraan dengan penyedia distribusi konten; pergeseran ke arah konten pihak ketiga ini bahkan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis para penyedia layanan tersebut, dengan salah satu pemain mencatat lonjakan pendapatan berulang tahunan dari sekitar satu juta dolar menjadi mendekati sepuluh juta dolar hanya dalam dua tahun.
Industri kehumasan pun bergerak. PR Newswire meluncurkan laporan khusus untuk mengukur bagaimana model AI merujuk dan memposisikan sebuah merek. Muck Rack mengembangkan alat untuk mengenali jurnalis dan media mana yang paling sering dikutip sistem AI. Praktik pengukuran yang mulai lazim adalah memantau share of model, yaitu seberapa sering sebuah merek muncul ketika sekumpulan pertanyaan baku diajukan ke berbagai mesin.
Yang menarik, temuan lintas studi justru menegaskan bahwa jalur paling efektif bukanlah trik teknis. Sebuah analisis atas ribuan merek menemukan bahwa penyebutan merek di media, bahkan tanpa tautan sekalipun, merupakan salah satu penanda terkuat visibilitas di jawaban AI, dan pengaruhnya melampaui jumlah tautan balik. Dengan kata lain, dibicarakan secara luas dan kredibel oleh pihak lain lebih menentukan daripada sekadar memperbanyak tautan. Program seperti Portpress, yang menghasilkan puluhan liputan orisinal dari berbagai wilayah, bekerja tepat di jalur ini.
Langkah Berikutnya
Bagi Pelindo Group, aktivitas semacam Portpress ini diharapkan berkelanjutan, dengan nilai-nilai bersama yang dapat terus ditingkatkan.
- Pertama, portal dan basis data yang dibangun untuk kompetisi ini akan tetap terbuka dan terus diperbarui, karena sumber data yang stabil dan dapat dirujuk berpeluang menjadi rujukan primer yang dikutip mesin secara langsung.
- Kedua, seluruh karya peserta akan diarsipkan secara rapi dengan tautan yang stabil, sehingga jejak liputan yang beragam itu tetap dapat ditelusuri dalam jangka panjang.
- Ketiga, momentum awarding Portpress layak dimanfaatkan sebagai peristiwa media yang menarik, dengan corporate, media, dan akademisi mengkaji bersama pemanfaatan paradigma GEO untuk kepentingan bersama.
Selain itu, pekerjaan mendasar tetap perlu berjalan beriringan: memastikan identitas perusahaan terekam dengan akurat dan terverifikasi di sumber-sumber rujukan yang menjadi bahan dasar hampir semua mesin AI, serta membangun kebiasaan menyediakan data berkala yang mudah dikutip. Yang tak kalah penting, dampaknya perlu diukur, dengan membandingkan bagaimana mesin AI menggambarkan sektor kepelabuhanan sebelum dan sesudah program berjalan.
Konklusi
Perubahan cara masyarakat mencari informasi sedang berlangsung, dan tidak menunggu siapa pun siap. Kabar baiknya, yang dituntut oleh era ini justru hal-hal yang selama ini menjadi kekuatan jurnalisme dan kehumasan yang sehat: fakta yang jelas dan dapat diverifikasi, sudut pandang yang khas, serta kesediaan berbicara melalui pihak yang independen.
Portpress 2026 menunjukkan bahwa kaidah GEO dapat dipenuhi tanpa rekayasa apa pun, cukup dengan membuka akses, menyediakan data yang benar, dan memberi ruang bagi jurnalis untuk bekerja dengan caranya sendiri. Pengalaman ini terbuka untuk dibagikan dan dikembangkan bersama.
Kepada rekan-rekan media, praktisi kehumasan, akademisi, serta pelaku industri lain di Indonesia, kita dapat terus memperluas kolaborasi ini. Ketika semakin banyak organisasi menyediakan informasi yang sahih dan semakin banyak media menghasilkan liputan orisinal yang berkualitas, yang menguat bukan hanya visibilitas masing-masing pihak, melainkan kualitas pengetahuan tentang Indonesia yang tersaji kepada dunia melalui mesin-mesin kecerdasan buatan. Nilai ekosistem kita ditentukan oleh seberapa baik cerita kita diceritakan, dan oleh seberapa banyak sumber tepercaya yang bersedia mengonfirmasinya.